Sejatinya Pendidikan Itu





Pendidikan dalam artian pendidikan sebagai alat pembebasan, pembebasan dari buta huruf dan pembodohan, mengutip perkataan Paulo Freire orang yang buta huruf adalah manusia kosong dan itu awal dari penindasan, apapun nama dan alasannya, adalah tidak manusiawi (dehumanisasi). Pendidikan sebagai proses dialektika yang akan memanusiakan manusia ( humanisasi) merupakan pilihan mutlak.

Dimulai dari fase feodalisme pendidikan hanya dinikmati oleh kaum bangsawan saja, begitupun masa kolonialisme dimasa Belanda dengan politik etis, yang juga hanya dimiliki oleh kaum bangsawan saja hal itu sepertinya terjadi hingga masa kini, pendidikan tetap seperti barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh beberapa orang saja.

Merupakan sebuah pembuktian bahwa pendidikan tinggi di Indonesia masih belum berpihak pada rakyat kecil, di lain sisi pemerintah sedang giat-giatnya membangun infrastruktur Indonesia dengan konsep NAWACITA-nya, karena mungkin sebuah indikator Negara dianggap maju dewasa ini adalah panjangnya jalan tol, banyaknya pelabuhan atau kereta api yang bisa melaju super cepat agar dapat mengatasi kemacetan, bukan dari berapa banyak warganya dapat mengenyam pendidikan bukan hanya  pendidikan wajib 12 tahun namun juga dapat merasakan bangku perkuliahan, namun nampaknya pendidikan saat ini bukan prioritas utama pemerintahan kita, meskipun kita perlu ingat bahwa dalam NAWACITA salah satu dari 9 agenda prioritas pemerintahan kita adalah meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan namun mungkin Indonesia akan terlihat sedikit maju bila infrastruktur-nya dapat bersaing dengan Negara maju lainnya .

Pendidikan sudah berorientasi pasar dan kita sebagai pelajar ataupun mahasiswa dijadikan komoditas yang siap dilempar ke pasar. Pendidikan akan disetting untuk melahirkan tenaga-tenaga penggerak laju modal yaitu sebagai buruh, disinilah sistem kapitalisme bekerja.
Masalah pendidikan di Indonesia ibarat benang kusut. Banyak permasalahan yang terjadi di dalam pendidikan Indonesia bukan hanya sistem pendidikannya tetapi pelaku yang ada didalamnya. Lihat saja, banyak pelanggaran yang terjadi seperti banyak pelajar melakukan tawuran, narkoba, free sex, berkompoi merayakan hari akhir sekolah dengan membuat kemacetan yang tidak jarang memakan korban jiwa yang disebabkan oleh kemacetan, lalu dimana cita-cita pendidikan yang digaungkan membangun karakter dan budaya Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang berbunyi bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,  karakter dan  peradaban seperti apa yang dimaksud ?

Ki Hajar Dewantoro mengatakan bahwa pendidikan bukanlah mengejar gelar ataupun pekerjaan, akan tetapi menemukan jati diri yang benar-benar merdeka dan bermartabat. Yang  dibutuhkan adalah ilmu yang dapat disumbangkan kepada bangsa negara dan pengabdian pada rakyat.

Sudah saatnya kita kembali membaca sejarah panjang perjuangan para pahlawan pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara yang menghabiskan seluruh hidupnya agar semua rakyat Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, meskipun harus mati karena di anggap menentang penjajah yang mengharapkan rakyat Indonesia untuk tetap bodoh atau Tan Malaka yang berusaha untuk mencerdaskan anak bangsa yang saat itu sedang terjajah, meskipun akhirnya membuat dia harus di penjara, meyedihkan saat Indonesia tak lagi terjajah saat kita dapat mencerdaskan rakyat kita karena tak ada lagi penjajah yang berharap kita untuk tetap bodoh namun pemerintah kita melupakan kesempatan itu dan membuat pendidikan adalah hal yang mahal bagi rakyatnya. Ada baiknya kita mencontoh negara-negara yang menggratiskan dan memurahkan pendidikan bagi warga negaranya seperti Finlandia, Swedia, Norwegia dan lain-lain.

Hal tersebut diatas perlu dukungan kita sebagai warga negara untuk saling bekerjasama menciptakan manusia yang berbudaya dengan mengedepankan Iman, Ilmu, dan Amal
Yakin Usaha Sampai !


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS FEMINISME SASTRA PADA NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL”KARYA NAWAL EL SAADAWI (KAJIAN FEMINISME)

"Durian Kuburan"

POLITIK IDENTITAS ETNIS TIONGHOA DI MEDAN DAN MULTIKULTURALISME DALAM PENGUATAN RASA NASIONALSME ENDANG FRANSISKA