Imam-makmum Bukan relasi tiranistik, tetapi komplementer

Islam sama sekali tak mengenal apa itu feminisme, kesetaraan gender,  egilitiarisme. Islam pada khittahnya, sepenuhnya memuliakan kaum hawa, islamlah yang menyelamatkan kaum hawa di masa arab jahiliyah dulu dari kesewenangan dan penyiaan.

Sebagai bukti, nasihat dari ali bin abu thalib," tidaklah memuliakan wanita kecuali lelaki mulia,  dan tidaklah menghinakan wanita kecuali lelaki hina".

Relasi wanita-lelaki secara hakikat bukanlah relasi yang berhadapan,  head to head, tetapi berjamaah untuk saling melengkapi. Pada level-level tertentu, pemimpin (lelaki)  sudah pasti harus mendengarkan pendapat yang dipimpinya. Tetapi, pemimpin hanya boleh ada satu. Tidak mungkin dalam satu rumah ada dua singa, dua Raja, pasti bubrah. Nah, fungsi satu iman ini ialah untuk  mengambil keputusan Akhir. Apapun itu!  Dalam proses pengambilan keputusan itu,  pemimpin yang baik pastilah akan menyerap aspirasi orang-orang di sekitarnya.

Inilah yang dirusak isu feminisme sekuker, mencabik cabik khittah keberjemaahan menjadi kesejarahan. Kacaulah urusannya. Yang satu ke kanan, satu lagi ke kiri. Ini mau membangun rumah tangga atau partai politik yang salin beroposisi demi mengeruk kekuasaan ya?

Tidaklah mungkin sakinah, mawaddah,  dan rahmah berpijar di dalam rumah bila istri tidak memaklumi suami, atau sebaliknya suami tidak mengimani istri. Sekali Lagi, relasi iman dan makmum bukanlah relasi yang tiranistik,  tetapi komplementer.

Sefasih apapun anda hafal al qur'an tanpa  makmum anda bukanlah siapa siapa dalam sebuah shalat. Para lelaki haruslah mengunsafi prinsip ini,  setamsil kaum hawa yabg wajib menerimanya pula.  Tanpa syarat!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS FEMINISME SASTRA PADA NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL”KARYA NAWAL EL SAADAWI (KAJIAN FEMINISME)

"Durian Kuburan"

POLITIK IDENTITAS ETNIS TIONGHOA DI MEDAN DAN MULTIKULTURALISME DALAM PENGUATAN RASA NASIONALSME ENDANG FRANSISKA