Hanyalah "Semoga" yang ia punya





Seperti biasa petang tadi ia baru saja pulang dari tempat mengajar privat bahasa mandarin.
Di perjalanan ia termenung duduk di tepi dekat pintu angkutan umum nomor 54, ia melamunkan banyak sekali macam kehidupan di kota medan ini,  ia merasa sedih disaat melihat banyak bapak-bapak tukang becak mangkal di sekitaran  jalan simpang pos, ia membayangkan sudah berapa banyak rezeki yang bapak tersebut dapat hari ini? sudah berapa lama  mangkal di tempat itu? berapa anaknya?  Bagaimana sifat anak-anaknya ? apakah istrinya bekerja? apakah bapak itu hanya mempunyai pekerjaan sebagai seorang tukang becak? Apakah kehidupannya tercukupi ? Semoga rezekinya lancar ya pak.
Lalu ada beberapa terlihat anak muda juga menjadi tukang becak, bagaimana masa depannya? Semoga bisa dapat pekerjaan yang lebih baik ya bg.
Lalu terlihat ibu-ibu pedagang asongan menawarkan rokok batangan kepada supir-supir angkot yang lewat, kembali terbesit pertanyaan,  bagaimana keadaan anak-anaknya di rumah?  Sudahkan ia menyediakan makanan untuk anak dan suaminya di rumah? Sampai jam berapa ia pulang? Semoga ibu sehat selalu, dan tetap semangat ya bu.
Lalu di siang hari juga terlihat anak-anak seumuran adiknya,  mungkin tingkat sekolah dasar ia juga sebagai pedagang asongan, ada juga yang sebagai pengamen, mengejar angkot yang datang,  apakah adik-adik itu tidak merasa malu ? Semoga adik-adik kelak jadi orang sukses ya.
Di jalanan simpang pos, dekat lampu merah itu juga sering ia melihat ibu-ibu mengemis dengan kulitnya yang merah-merah bekas luka bakar. Rasanya seperti sakit sekali. Apakah ibu punya keluarga ? Dimana anak-anak ibu ? Ibu dimana rumahnya ? Sudah berapa lama ibu kepanasan disitu ? Semoga ibu cepat sembuh.
Di angkutan umum yang ia tumpangi ia pun merasa sedih, pasalnya bapak supirnya membawa anak dan istrinya mencari rezeki bersamanya, dan yang paling membuat nyesek, penumpangnya hanya tiga orang saja, dua orang anak muda kemudian mereka turun di gang tidak jauh dari mereka naik tadi, nah sekarang tinggalah ia seorang. Semoga bapak penumpangnya banyak ya di lain waktu.
Pas tepat di depan ayam penyet surabaya jamin ginting padang bulan medan, ia meminta bapak supir menurunkannya. Setelah turun ia melihat ada yang melihatiny, tiga orang mereka adalah satu orang ibu muda, dengan dua orang anak balitanya, satu ia gendong di pangkuannya, dan satunya lagi membawa tas yang isinya entah apa, mereka duduk tepat di tepi jalan aspal. Lalu ia menerka, ibu apakah ibu muda yang baru saja dicampakan oleh suami ibu, atau ibu sedang dalam perjalanan meninggalkan rumah karena ada pertengkaran keluarga. Kulihat mereka dengan seksama dari jarak kejauhan. Semoga tidak sedang terjadi apa-apa, kasihan kedua anak ibu itu yang masih kecil.
Masih banyak lagi kisah jalanan yang ia cuma bisa meratapi, tanpa bisa berbuat apa-apa, hanya "semoga" yang ia punya.
mandi dulu yaaa sudah malam. Kelak ia jadi orang sukses dan membantu banyak orang. (gumamnya). 
13/3/2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS FEMINISME SASTRA PADA NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL”KARYA NAWAL EL SAADAWI (KAJIAN FEMINISME)

"Durian Kuburan"

POLITIK IDENTITAS ETNIS TIONGHOA DI MEDAN DAN MULTIKULTURALISME DALAM PENGUATAN RASA NASIONALSME ENDANG FRANSISKA