Kampusku mulai sombong





Teduhnya pemandangan malam,  yang seolah senja itu ditambah temaram dengan jejeran lampu sepanjang jalanan yang bulat-bulat bercahaya seperti bulan dan anak-anaknya, sunyi, sepi, tidak ada lagi suara "pak pesan arema 2 mangkuk " suara genjreng genjreng,  tak dum dum tak,  tititik, " atau suara suara diskusi yang katanya aktivis,  mengkonsolidasikan diri bersama semangkuk arema,  ditemani se cup es tebu,  tidak ada lagi jejeran jejeran penjual sepanjang pintu satu FIB kampusku ini. yaa semuanya memang sudah berbeda,  dia tidak lagi sama pasalnya kampusku sekarang sudah sombong, dia sudah memagari rumahnya,  tidak sembarang orang bisa masuk,  semua yang jual jualan itu sudah digusur, katanya sih biar kampus kami kondusif, kampusku sudah sombong bahkan hari-hari tertentu ia mengunci dirinya, entahlah mungkin ia mau merenungkan keberadaan dan masa depannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS FEMINISME SASTRA PADA NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL”KARYA NAWAL EL SAADAWI (KAJIAN FEMINISME)

"Durian Kuburan"

POLITIK IDENTITAS ETNIS TIONGHOA DI MEDAN DAN MULTIKULTURALISME DALAM PENGUATAN RASA NASIONALSME ENDANG FRANSISKA