Sejarah Pergerakan di Sumatera Utara
Nama : Desy Maya
Sari
NIM : 150706032
Mata Kuliah : Sejarah
Pergerakan di Sumatera Utara
Ekonomi perkebunan
di Sumatera Utara yang dahulunya adalah Sumatera Timur telah mewarnai
penduduknya menjadi heterogen. Dengan adanya perkembangan ekonomi perkebunan
membuat orang- orang Batak Toba menduduki daerah Simalungun. Terlebih karena
adanya kebijaksanaan Pemerintah Kolonial Belanda yang mendesak raja- raja
Panei, Bilah, dan Siantar untuk mendatangkan petani Batak Toba ke wilayah
mereka untuk diperkerjakan sebagai buruh- buruh dalam perluasan tanah- tanah
pertanian. Belum lagi buruh- buruh yang lain juga didatangkan seperti dari Jawa
dan Penang. Hal ini membuat komposisi penduduk di Sumatera Timur mayoritas
adalah suku pendatang, sedangkan penduduk asli turun menjadi minoritas.
Perkembangan
ekonomi perkebunan telah menyebabkan daerah Sumatera Timur menjadi terkenal dan
secara ekonomis sangat maju dibandingkan daerah- daerah lainnya di Sumatera.
Hasil produksi perkebunan telah memberikan keuntungan besar terhadap para
pengusaha, pemerintah kolonial Belanda, dan pemerintahan kerajaan di Sumatera
Timur. Akan tetapi buruh- buruh perkebunan mengalami penderitaan karena mereka
sebagai ujung tombak hidup matinya ekonomi perkebunan di Sumatera Timur.
Buruh- buruh
perkebunan semakin sengsara karena diberlakukannya sistem kerja kontrak bersama
majikannya, sistem rekuitmen kuli kontrak itu didukung oleh tiga peraturan
pemerintah. Pertama Koeli Ordonantie yang diajukan pada tahun 1880,
1884, dan 1893. Peraturan itu memberikan kewenangan hukum kepada para manager
perkebunan selama masih berlaku kontrak. Kedua, Poenali Sanctie dimasukkan
ke dalam pasal kerja kuli- kuli untuk menghukum kuli- kuli yang melanggar pasal
kontrak kerja mereka. Ketiga, melalui peranan perkumpulan para pengusaha
perkebunan, Deli Planters Vereneging (DPV) tahun 1879. Dengan tujuan
menyuarakan kepentingan para pengusaha perkebunan seperti mengatur pembagian
kuli- kuli kebun.
Gambaran kondisi
buruh perkebunan sama sekali tidak menikmati keuntungan dari perkembangan
daerah Sumatera Timur yang justru dengan nyata sekali ada andil mereka dalam proses
perkembangannya.
Dampak lain dari
masuknya pemerintahan Kolonial Belanda dan perkembangan perkebunan di Sumatera
Timur yaitu berkembangnya lembaga pendidikan atau sekolah- sekolah. Banyak
orang- orang Eropa menetap di wilayah ini khususnya di kota- kota besar seperti
Medan. Sekolah yang didirikan di Sumatera Timur adalah Volkschool,
Vervolgschool, Namaal School, dan Hollandasch School (HIS).
Dengan adanya
perkebunan di Sumatera Timur, maka melahirkan sejumlah kota- kota baru. Medan
yang awalnya hanyalah sebuah kampung kini telah menjadi kota besar tanpa adanya
perencanaan oleh Kolonial Belanda untuk dijadikan sebagai kota. Masyarakat
berbondong –bondong pindah ke wilayah tersebut dengan alasan mengaduh nasib,
bisa dengan berjualan di tempat- tempat stategis dekat dengan pusat
pemerintahan.
Perkebunan yang
telah membuat Sumatera Timur semakin ramai dikunjungi, dan tembakau sebagai
komoditas utama telah mensejahterahkan para penduduk asli, pemerintah kolonial
Belanda, dan pengusaha- pengusaha perkebunan. Maka dibangunlah berbagai
fasilitas yang menunjang kepentingan mereka. Seperti kantor- kantor perkebunan,
transportasi seperti kereta api, dan macam- macam layanan serta pembangunan
infrastruktur yang sejatinya untuk semakin memperkaya mereka.
Daftar Pustaka
Suprayitno, 2001. Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia,
Yogyakarta: Tarawang Press.
Komentar
Posting Komentar